Minggu, 31 Juli 2011

Setan Pencuri Zakat

Pada suatu hari, Abu Hurairah ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga zakat Ramadhan atau yang dikenal dengan zakat fitrah. Hingga suatu malam, ada seseorang yang mengendap-endap mencuri segenggam makanan. Abu Hurairah segera menangkapnya seraya mengancam, "Nanti akan kulaporkan engkau kepada Rasulullah." Orang itu menjawab, "Sesungguhnya, aku adalah orang yang sangat membutuhkan karena aku mempunyai tanggungan keluarga." Abu Hurairah akhirnya melepaskan orang tersebut.

Esok harinya, Rasulullah SAW bertanya kepada Abu Hurairah, "Apa yang diperbuat oleh tawananmu semalam?" Jawab Abu Hurairah, "Ya Rasulullah, ia mengatakan sangat butuh karena mempunyai tanggungan keluarga. Maka, aku merasa kasihan, lalu kubiarkan dia pergi."Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya, orang itu membohongimu. Ia pasti akan kembali lagi."

Perkataan Rasulullah SAW pastilah benar. Ternyata, pada malam harinya, pencuri itu kembali beraksi. Orang itu mengambil segenggam makanan. Abu Hurairah mengintainya dan segera menangkapnya. Abu Hurairah mengancam lagi, "Nanti engkau akan aku laporkan kepada Rasulullah SAW." Orang itu beralasan seperti semula dan berjanji tidak akan mengulanginya. Akhirnya, Abu Hurairah kembali melepaskannya karena kasihan.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW bertanya kembali kepada Abu Hurairah, "Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?" Kembali Abu Hurairah menjawab seperti kemarin. Dan Rasulullah SAW menjawab, "Sebenarnya, ia dusta dan ia akan kembali kepadamu."

Untuk ketiga kalinya, Abu Hurairah mengintainya dan memang benar orang itu datang kembali, lalu mengambil segenggam makanan. Segera Abu Hurairah menangkapnya seraya berkata, "Engkau pasti aku adukan kepada Rasulullah. Ini sudah ketiga kalinya engkau mengatakan tidak akan kembali, tetapi nyatanya engkau tetap kembali." Orang itu berkata, "Lepaskan aku, nanti aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang Allah akan memberimu manfaat bila engkau membacanya."

Abu Hurairah lantas bertanya, "Apa kalimat itu?"
Jawabnya, "Apabila engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi (surah al-Baqarah ayat 255). Maka Allah akan senantiasa menjagamu, sedang setan tidak akan mendekatimu sampai pagi." Setelah itu, dibiarkannya orang itu pergi.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW bertanya, "Wahai Abu Hurairah, apa yang diperbuat tawananmu semalam?" Abu Hurairah menjawab, "Ya Rasulullah, dia mengajariku beberapa kalimat yang katanya Allah akan memberi manfaat bila seseorang membacanya. Karena itu, aku melepaskannya."

Beliau bertanya, "Kalimat apakah itu?" Abu Hurairah menjawab, "Ia mengatakan kepadaku apabila engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir. Engkau akan senantiasa dalam penjagaan Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi."

Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Sesungguhnya, kali ini, ia benar. Padahal, ia sangat pendusta. Wahai Abu Hurairah, tahukah engkau dengan siapa engkau bercakap-cakap selama tiga malam berturut-turut?" Jawab Abu Hurairah, "Tidak." Kemudian, Rasulullah SAW menjawab, "Dia adalah setan."



Salam,
HJK

Sabtu, 30 Juli 2011

Meugang


Entah sejak kapan tradisi dengan istilah " Meugang " ini mulai mengakar di Aceh.

Jika saya bertanya kepada mereka yang menjalankan tradisi tersebut, jawabannya selalu sama. "Wah...ini sudah tradisi turun temurun...pokoknya sejak dulu lah...kita tinggal meneruskan tradisi tersebut."

Alhamdulillah, semoga tidak menjadi tradisi yang memberatkan sebagian orang yang tidak mampu.

Tradisi Meugang adalah sebuah momen yang dianggap penting di Aceh ini. Dan adanya hanya pada saat sebelum memasuki bulan Ramadhan/ puasa, Hari Raya Iedul Fitri dan juga Hari Raya Iedul Adha.

Tahun lalu ketika saya baru pindah tugas ke Aceh, saya masih belum faham....apa yang harus saya lakukan saat Meugang....dan apa yang dilakukan orang-orang saat melaksanakan Meugang ?....Ngapain aja sih mereka ?....

Dan kesimpulan saya mengatakan (entah salah atau tidak), tapi menurut saya sih...Meugang merupakan bentuk perhatian, kepedulian atau kepekaan seseorang dalam merefleksikan tanggung-jawabnya terhadap orang disekitarnya.

Lingkaran terdekat adalah keluarganya sendiri. Sedangkan, lingkaran terdekat suatu instansi/ perusahaan adalah karyawan nya.

Bentuk perhatian masing-masing individu dan instansi berbeda beda, tergantung dari sumber dana yang dapat dianggarkan untuk tradisi tersebut.

Diberbagai kantor Kecamatan, terlihat perhatian tradisi meugang diberikan dalam bentuk bingkisan berisi Sirop, beras, dan mie instan.

Namun di instansi lainnya, tampak ada yang berbagi amplob sebagai pengganti pembelian daging sapi 2 kg - 4 kg.

Lebih detail lagi....sebenarnya, Meugang itu identik dengan tanggung jawab seorang suami terhadap keluarganya.

Jadi, Seorang laki-laki yang sudah dewasa dan mandiri, diharuskan membawa pulang minimal 2 kg daging sapi saat Meugang yang diberikan untuk orang tuanya.
Jika seorang laki-laki tersebut sudah berkeluarga, dia harus membawakan minimal daging sebanyak 4 kg. Namun jika mampu, sebaiknya minimal 6 kg terdiri dari Keluarga sendiri 2 kg, Orang tua 2 kg dan Mertua 2 kg.

Pemberian bingkisan tradisi meugang tersebut, biasanya diberikan 2 hari sebelum memasuki bulan puasa. Dan biasanya pula, mereka yang menjalankan tradisi tersebut izin tidak masuk kerja di hari pertama Puasa. (seperti sekolah anak saya ketika dia masih SD, hari pertama puasa diliburkan)

Hmmm....ada-ada saja....seharusnya, kalo memang sudah menjadi tradisi, buat saja Perda untuk libur bersama...sehingga pelaksanaan Meugang menjadi kompak dan terasa khidmat.



Salam,
HJK

Jumat, 17 Juni 2011

Proyek dan Panglima Sago



Mendekati selesainya Proyek Drainase ini, ternyata situasi di internal mitra kerja yang di dalamnya terdiri dari mantan orang GAM semakin memanas. Tak jelas siapa yang memulai ingkar dalam kesepakatan kerja di internal mereka. Tapi imbasnya, kami juga yang harus masuk di dalamnya untuk membantu menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika tidak, pekerjaan akan terhenti.

Sebenarnya, kejadian ini sejak awal sudah terprediksi, tim proyek pun selalu berhati-hati dalam memberikan pekerjaan.

Ketika pelaksanaan proyek akan dimulai, beberapa gerombol orang mendatangi kantor berusaha memancing keributan dalam penguasaan lokasi pekerjaan. Mereka selalu meng klaim dirinya adalah Panglima Sago yang menguasai wilayah tersebut.

Mengenai istilah Panglima Sago, terbentuknya saat terjadi kekerasan di Aceh dahulu. Jadi kala itu, ada istilah Panglima GAM dan Panglima Sago.

Untuk mempermudah koordinasi antar wilayah, Panglima GAM membentuk kelompok kekuatan pada sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang komandan dengan istilah " Panglima Sago ". Mereka umumnya direkrut dari pimpinan kelompok pemuda yang disegani di wilayahnya.

Namun saat ini, beberapa anggota GAM sudah tidak patuh lagi dengan komandannya masing-masing. Mereka lebih mengutamakan penguasaan terhadap proyek-proyek yang bisa dikelola oleh kelompoknya sendiri.

Tanpa ada dasar kemampuan kompetensi dalam bidangnya, jelas saja akhirnya mereka ribut sendiri di dalamnya. Jika ribut, selalu saja masalah yang berurusan dengan pembagian keuntungan dari hasil pekerjaan. Mereka tidak kommit dalam managemen keuangan, sehingga seringkali ada pengaduan pada tim proyek....cape deh....

Akhirnya, semakin hari hubungan mereka dalam kesatuan GAM terlihat sudah mulai pecah dan bergerak masing-masing.

Aneh..., padahal mereka dulunya berada dalam satu kesatuan organisasi yang solid. Tapi entah mengapa, mereka pecah masing-masing tanpa jalur komando lagi dengan menguasai areal daerah yang di klaim miliknya. Dan tak jarang, mereka saling menjelekkan satu dengan lainnya, untuk upaya menarik simpati pribadi.

Meskipun anggotanya sudah carut-marut, namun gelar Panglima Sago masih bangga disandang olehnya.

Yang anehnya lagi, mereka yang bertengkar, tapi tim proyek yang menerima ancaman. Tak jarang juga kami pun terpancing emosi, akibat ke tidak mengertian prosedur yang mereka lakukan.

Ancaman akan membunuh, tak jarang juga dilontarkan dari mulut mereka. Seakan tim proyek ini anak-anak yang baru lahir dan gampang sekali untuk ditakut-takuti oleh mereka, yang mengaku "mantan GAM".

Memang, mereka tidak bisa disamakan dengan preman pada proyek-proyek lain di luar Aceh. Mereka rata-rata bersuara keras, kasar dan tanpa tata krama. Jika ada masalah, selalu datang secara bergerombol. Wajahnya sangar, tubuhnya gempal, tinggi dan hitam, begitulah perawakannya.

Mantan anggota GAM yang muncul di lokasi pada umumnya adalah orang-orang yang sangat mengerikan, jika kita tidak mampu memposisikan diri dengan baik diantara mereka. Namun, dalam majalah terbitan komunitas GAM, justru mereka yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang sangat santun, baik, cerdas, pandai, saling tolong menolong dan bijak dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Lalu, siapa yang membuat keresahan di proyek selama ini ? Jangan-jangan hanya seorang preman kampungan yang memanfaatkan nama GAM untuk menakut-nakuti tim proyek.





Wassalam,
HJK

Sabtu, 23 Oktober 2010

Mabrur tanpa berhaji


Banyak kisah sufi tentang Mabrur tanpa berhaji, namun kali ini saya tuliskan kisah seorang tukang cukur rambut yang mendapatkan predikat haji mabrur, tanpa harus pergi ke Baitullah.

Tersebutlah dalam satu kisah sufi, seseorang yang sedang menunaikan ibadah haji terlelap saat wukuf di tengah teriknya matahari di Padang Arafah. Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa Rasulullah Saw.


Mimpi itu memberinya harapan bahwa hajinya mabrur. Bagaimana tidak, sampai-sampai Rasul pun, menemuinya.


Untuk memastikan, ia lalu memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasul, siapakah yang diterima hajinya sebagai haji mabrur?"
Nabi Muhammad Saw, seraya menarik napas dalam-dalam, menjawab, "Tak seorangpun dari jamaah haji ini yang diterima hajinya, kecuali tukang cukur tetanggamu."
Sang haji tersentak kaget. Betapa tidak, ia tahu persis tetangganya itu miskin. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun ia tak mampu menunaikan ibadah haji.

Dengan perasaan sedih dan dada sesak, ia terbangun dari tidurnya. Sepanjang wukuf, ia mengintrospeksi diri, memikirkan dalam-dalam apa arti di mimpi tadi.

Dan sekembali dari Mekah ia segera menemui tetangganya si tukang cukur itu. Ia menceritakan segala pengalamannya selama menunaikan ibadah haji.

Tapi cerita yang paling ingin disampaikan adalah perihal tukang cukur itu sendiri yang disebut-sebut Nabi dalam mimpinya.


Dengan sikap keheranan, Pak Haji bertanya, "Amalan apa yang telah Anda lakukan sehingga Anda dianggap telah melakukan haji mabrur?"
Tetangganya semula juga bingung. Tapi ia lalu teringat pada kegagalannya berangkat haji tahun ini.

Lalu dia pun bercerita, Sebenarnya, tukang cukur itu telah lama bercita-cita naik haji, seperti tetangganya yang sudah bolak-balik ke Mekah berkali-kali. Untuk itu, bertahun-tahun ia mengumpulkan biaya yang disisihkan dari hasil profesinya.

Dan Alhamdulillah, tabungan itu akhirnya cukup untuk biaya naik haji tahun ini.

Namun, ketika ia bersiap-siap untuk berangat ke Mekah, seorang anak yatim tetangganya tertimpa musibah yang hampir merenggut jiwanya.

Tukang cukur sempat bimbang, antara tetap pergi haji atau menolong si anak yatim. Tapi akhirnya dia berketetapan menolong anak yatim tersebut, dan menyumbangkan hampir seluruh tabungan hajinya untuk membiayai pengobatan anak yatim itu.

Akhirnya, gagallah dia berangkat haji,....namun, pilihannya tidak keliru. Atas niat baik dan keikhlasan serta pengorbanannya, ternyata justru ia memperoleh predikat mabrur tanpa pergi haji.



salam,
HJK

  • Berkunjung ke Baitullah, sudah pasti menjadi cita-cita setiap muslim. Bahkan nikmatnya menjadi tamu Allah kelewat sayang jika tak berangkat haji lagi bila ada rezeki/ uang.
    Namun, Ibnu Abbas berwasiat ; "Membelanjakan hartaku untuk memberi makan satu keluarga muslim selama sebulan, jauh lebih aku sukai ketimbang berhaji berkali-kali " (Abu Nuaim dalam Al Hilyah I).
    Sebenarnya, keinginan untuk berangkat haji lagi, lebih dikarenakan adanya energi positif jika berada di Baitullah. Perasaan khidmad dan khusyuk benar-2 terasa...apalagi semua umat yang berada di Mekkah mempunyai tujuan yang sama.
    Ada juga, yang karena merasa kepergian haji sebelumnya terdapat kekurangan dalam melaksanakan ibadahnya, atau ada alasan lainnya.

    Jika kisah sufi di atas memang benar adanya, Subhanallah....saya pun yakin ketulusannya sebanding dengan haji mabrur.

Selasa, 19 Oktober 2010

Jeddah Bukan Miqat


Penulis Al-Ustadz Qomar ZA Lc

Apakah Jeddah bisa menjadi miqat sebagai pengganti Yalamlam ? krn sebagian ulama membolehkannya.

Jawab:
Dalil dlm menentukan miqat adl hadits yg diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dlm Shahih kedua dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
“Sesungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah Al-Juhfah bagi penduduk Syam Qarnul Manazil bagi penduduk Najd dan Yalamlam bagi penduduk Yaman. Miqat-miqat itu bagi penduduk negeri itu dan selain mereka yg melewati utk pergi haji atau umrah. Dan orang yg kurang dari jarak itu mk dia berihram dari tempat dia memulai sampai penduduk Makkah berihram dari Makkah.”

Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan Dzatu ‘Irqin sebagai miqat bagi penduduk Irak.”
Abu Dawud dan Al-Mundziri mendiamkan riwayat ini sedangkan Ibnu Hajar dlm At-Talkhis mengatakan: “Hadits itu merupakan riwayat Ibnul Qasim dari ‘Aisyah. Al-Mu’afa bin ‘Imran menyendiri dlm meriwayatkan dari Aflah dari Ibnul Qasim dan Al-Mu’afa dapat dipercaya.”

Miqat-miqat ini berlaku bagi penduduk daerah tersebut atau penduduk daerah lain yg melalui utk pergi haji atau umrah. Adapun orang yg tinggal di dlm batas itu mk berihram dari tempat dia memulai ihram sampaipun penduduk Makkah berihram dari Makkah. Namun orang yg hendak melakukan umrah sementara dia berada dlm wilayah tanah Al-Haram mk dia keluar ke daerah yg halal lalu melakukan ihram dari situ. Sebagaimana hal ini terjadi pada ‘Aisyah dgn perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma saudara laki2 ‘Aisyah agar keluar bersama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ke Tan’im utk melakukan umrah. Hal ini terjadi setelah haji wada’.
Dan di antara miqat-miqat yg telah disebutkan adl Yalamlam. Sehingga barang-siapa yg melewati utk pergi haji atau umrah baik penduduk Yalamlam atau bukan mk ia berihram darinya. Bagi orang yg berada di pesawat udara dia wajib utk berihram ketika sejajar dgn miqat. Sebagaimana wajib pula bagi yg naik kapal laut utk berihram apabila sejajar dgn miqatnya.

Jeddah merupakan miqat bagi penduduk Jeddah dan orang yg tinggal di sana apabila ingin haji atau umrah. Adapun menjadikan Jeddah sebagai miqat pengganti Yalamlam mk tdk ada dalilnya. Sehingga barangsiapa yg melewati Yalamlam dlm keadaan dia tdk berihram mk wajib membayar dam. Demikian juga orang2 yg melewati miqat yg lain utk pergi haji atau umrah. Karena miqat adl Yalamlam sementara jarak antara Makkah dan Yalamlam lbh jauh daripada jarak antara Makkah dan Jeddah. Allah-lah yg memberi taufiq. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad keluarga dan para shahabatnya.
Al-Lajnah Ad-Da‘imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta‘.
Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil: Abdurrazzaq ‘Afifi
Dinukil dari Fatawa Al-Lajnah Ad-Da‘imah . Lihat pula pembahasan yg semakna dlm Taisirul ‘Allam dan Fatawa Arkanul Islam karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
Demikianlah hendak hal ini menjadi perhatian bagi tiap jamaah haji yg menginginkan kebaikan utk dirinya. Solusi mudah yaitu dgn kita memulai memakai ihram sebelum naik pesawat atau ketika berada di atas pesawat. Kemudian bila sudah sejajar dgn miqat kita berniat ihram dan bertalbiyah.Selama anda berpegang dgn kebenaran janganlah malu. Tidak usah peduli dgn cemoohan orang dan omongan mereka krn ini adl masalah serius: masalah ibadah.


-------------------


Note :
Sebelumnya mohon ma'af, jika tulisan terebut di atas membingungkan para calon jema'ah hji yang akan berangkat menunaikan ibadah sucinya ke Makkah Al Mukarommah.
Saya pun mengalami hal yang sama saat akan ber Haji. Pernah saya tanyakan langsung pada pembimbing haji, dan beliaupun mempunyai dalil yang kuat juga (karena saya sangat awam dalam hal itu). Sehingga akhirnya, saya memutuskan untuk ber ihram di Jeddah.
Sebaiknya, para calon haji banyak mencari informasi langsung pada pembimbing hajinya, jika ada sesuatu yang mengganjal di hati. Manfaatkan saat manasik haji untuk bertanya, dan luangkan waktu untuk membaca tentang haji, agar tidak menjadi penyesalan nantinya.
Dan, Semoga menjadi Haji yang Mabrur.


Salam,
HJK

Me : "Jika Allah memanggil kami sekeluarga untuk dapat berkunjung ke Makkah Al Mukarommah, maka saya akan ber ihram dari Indonesia atau saat berada di atas miqat."

Sabtu, 16 Oktober 2010

Haji Mabrur


Saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang sahabat dari Madinah : “ Apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar ? ”.

"Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak, saat engkau kembali pulang di Madinah nanti” jawabnya singkat.

Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “ Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai upaya dan pengorbanan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik) atau maqbul (diterima).

Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.

Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan ibadah haji ?
Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya ?
Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk membersihkan dosa-dosa masa lalu ?

Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak dimaksudkan untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan. Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.

Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif. Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram karena sang haji.


(Dari milis tetangga)


Salam,
HJK


Selasa, 12 Oktober 2010

Mensyukuri musibah

Seringkali tanpa sadar, kita mengeluhkan apa saja yang tidak menyenangkan di hati. Yaaaa..... memang manusiawi.... setiap yang tidak sesuai, pasti ada rasa gundah di hati.

Saya pernah mendengarkan di suatu pengajian, intinya adalah, bagaimana kita "mensyukuri suatu musibah dan bersabar atas nikmat yang diberikan Allah".

Terdengar agak janggal, yang biasa kita dengar adalah ; "bersabar atas musibah dan mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah". Kalau itu sih memang sudah seharusnya, tapi menjadikan itu sebaliknya akan menjadi sulit bisa dimengerti.

Diberi musibah kok malah bersyukur.... diberi nikmat kok malah bersabar....

Ya, karena perbedaan antara musibah dan nikmat itu ternyata sangatlah tipis.


Salam,
HJK

Kamis, 07 Oktober 2010

Back to Work


Setelah standby hampir 2 minggu lamanya, akibat demo warga pemilik Jang, akhirnya pekerjaan timbunan tanah ini dapat diijinkan untuk dimulai kembali.

Demontrasi yang dilakukan oleh pemilik Meu Jang, adalah dampak dari pekerjaan retention basin/ kolam penampungan yang dapat mengakibatkan terhentinya ladang mata pencaharian mereka. Kalau berbicara dengan hati, sebenarnya tidak tega juga menghadapkan mereka secara langsung dengan aparat, apalagi jika sampai terjadi kontak fisik. Mereka rakyat kecil yang hanya minta mendapatkan perhatian dari pemerintah kota agar dibantu dalam mencari alternatif kewirausahaan.

Bantuan per KK Rp. 25 juta sudah ada kesepakatan antara Pemerintah Aceh dan Bank BPD Aceh, namun mereka (para anak meujang) tidak mengerti bagaimana cara mengambil atau mengurusnya, juga dana tersebut akan dipergunakan untuk kegiatan apa saja, sehingga dana tersebut dapat berputar dan bertambah. Karena jika dana tersebut digunakan untuk hal-hal yang konsumtif, maka dalam waktu dekat akan habis dan dana pinjaman tersebut tidak akan dapat diangsur pengembaliannya.

Dalam menyelesaikan masalah ini, beberapa pihak berkompeten telah banyak membantu jalannya kesepakatan dengan anak Jang ini. Cukup melelahkan memang, karena selama beberapa hari bertemu, solusi yang kami dapatkan hanya membuat dongkol di hati.

Dan akhirnya, melalui penyelesaian koordinasi harian, titik terang pun ada juga. Atas bantuan pak Keuchiek dan Camat, kitapun dapat berjumpa dengan sang petinggi di Aceh, meskipun lama menunggunya 5 jam. Menunggu 5 jam, tapi bertemu tidak lebih dari 5 menit. Hasilnyapun hanya dijanjikan bahwa proses pembayaran akan selesai dalam waktu 3 bulan.
Dan akhirnya, menurut anak Jang, " Jika dalam waktu 3 bulan pemerintah Aceh belum merealisasikan dana tersebut, maka pihak kontraktor harus sepakat menghentikan pekerjaannya, tanpa harus diminta untuk berhenti. Karena kesepakatan ini dibuat atas dasar kepercayaan sesama muslim. "

Ya, Alhamdulillah, sayapun diijinkan dapat kerja kembali sampai dengan batas waktu 25 Desember 2010. Jika pemkot molor/ lalai dari janjinya, maka saya harus berhenti lagi.....yaaa, nasib dah...tapi, tetap harus di syukuri.

Pemilik jang sebenarnya tau, bahwa posisi mereka lemah secara hukum. Mereka tidak punya alat bukti kuat yang melegalkan pemasangan Jang di alur pasang surut sungai - laut. Hanya saja keberadaan mereka memang diakui pemkot telah ada sejak tahun 1900, sebelum negara ini merdeka. (itu sesuai yang tertulis dalam data di kanto Kecamatan).
Jang ini adalah usaha milik keluarga, yang di lakukan secara turun temurun.

Bayangkan saja, sejak tahun 1900 mereka sudah berusaha disana, berarti sudah 110 tahun mengail rezeki di sungai Krueng Titi Panjang tersebut.....hmmm....kasian juga mereka, yang kecil yang tertindas. Semoga mereka mendapatkan lahan mata pencaharian yang baru.

Mudah-mudahan janji pemerintah Aceh ini tidak molor lagi, apalagi di lupakan.
" Lebih baik molor sedikit, karena masih ada yag diharapkan dari pada dilupakan. ", ujar mereka.



Salam,
HJK