Jumat, 31 Januari 2014

Imlek


 Just joke :
 
A : Imlek kerumah gue ya bro ..!!

B : ok bro,,Mang lo open house ..??

A : yoii bro ..

B : mang yang china bokap lo apa nyokap lo ..??

A : HP gue bro

"̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮

Rabu, 15 Januari 2014

Sebatang Lilin

Seorang gadis yang menyewa rumah bersebelahan dengan rumah seorang Ibu miskin yang hidup dengan seorang anaknya. Pada suatu malam, tiba-tiba listrik di daerah mereka mati.

Dalam kegelapan si gadis ke dapur untuk mencoba mencari beberapa batang lilin yang disimpannya dengan bantuan cahaya handphone yang dimilikinya. Ketika si gadis telah menemukan dan in...
gin menghidupkan sebatang lilin, ia mendengar ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu rumahnya.

Setelah gadis membuka pintu rumahnya, ternyata yang bertamu adalah anak miskin yang tinggal di sebelah rumahnya.

Dengan wajahnya yang polos, anak itu bertanya kepada si gadis. “Kakak, apakah kakak punya lilin?”. Dengan wajahnya yang polos dan terlihat agak sedikit khawatir. Kemudian, terlintas sebuah fikiran dalam hati si Gadis, “Aku tidak boleh memberikan sebatang lilin padanya, nanti pasti jadi kebiasaan!”. Lalu dengan cepat si gadis menjawab, “Maaf dik, saya nggak punya lilin!”.

Mendengar jawaban si Gadis tersebut, lalu anak tersebut segera menjawabnya dengan wajah polos yang dihiasi oleh senyuman, “Saya sudah bisa menebak, Kakak pasti tidak punya lilin. Ini, saya punya dua lilin. Satu untuk saya, satu lagi buat Kakak. Saya merasa khawatir karena kan Kakak tinggal sendirian. Dalam keadaan yang gelap seperti ini tanpa lilin, saya merasa khawatir jika terjadi apa-apa”.

Melihat wajah polos dan mendengar suaranya yang lembut, si Gadis langsung berlinang air mata. Dia segera memeluk gadis kecil itu erat-erat.

Mungkin sebagian dari anda sudah pernah baca kisah inspirasi ini. Tapi sebenarnya banyak sekali makna yang bisa diambil dari kisah sebatang lilin di atas. Mengingat fakta yang sebagian besar orang-orang saat ini memiliki kehidupan yang seakan anti sosial. Tidak mau tahu, cuek, apatis, nggak peduli, individu, rasanya seperti hidup hanya sendiri dan tidak memerlukan bantuan orang lain. Bukan hanya di kota-kota besar saja, menurut saya ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan zaman sekarang.

Tapi, kita bisa melihat bagaimana kepedulian dan ketulusan anak kecil di atas. Sekalipun hidup miskin, ia mencoba memberikan sesuatu yang mungkin tidak berharga, namun sangat berarti dalam situasi tertentu.

Harta atau kekayaan bukan bergantung dari seberapa banyak yang kita punya. Tapi seberapa mampukah kita untuk berbagi kepada mereka yang tidak mampu.

Selasa, 31 Desember 2013

KENTUT

Sepasang suami istri baru menikah, si suami ingin memberikan surprise pada istrinya, suatu hari si suami berkata kepada istrinya:

“Sayang, kita pergi yuk,tapi mata dan telinga kamu harus ditutup yah…!”
“Kok harus ditutup sih mas…?” kata istrinya
“Yah, pokoknya ada sesuatu untukmu….. ”

Merekapun berangkat dengan menggunakan taxi, begitu sampe di tempat yang dituju mereka turun, kemudian s...
i suami mengajak istrinya masuk ke rumah baru yang dijadikan sebagai surprise untuk istrinya, tapi si suami masih belum mengijinkan istrinya membuka tutup mata.

Ternyata si istri ingin buang angin, tapi karena masih malu sama suaminya si istri pura-pura minta tolong dibikinin minuman.

“Mas, ambilin saya minum dong…!”

Suaminya kemudian pergi mengambil minuman, ketika suaminya pergi si istri buang angin “tuuuut..”

Pas si suami datang membawa minuman, ternyata si istri masih ingin buang angin,akhirnya dia bilang ke suaminya .
“Mas minumannya kurang manis, tambahin gula lagi yah….”

Si suami pergi lagi untuk menambahkan gula pada minuman istrinya, ketika suaminya pergi si istri kentut lagi “tuuuuuut… .”.

Kemudian si suami datang lagi untuk memberikan minuman, tapi ternyata si istri masih ingin buang angin, akhirnya dengan berberat hati si istri minta ditambahkan gula lagi, saat si suami pergi istrinya kembali buang angin “TTUUUUUUUUUTT. ……TUUT. ….TUUT”

Akhirnya si istri merasa lega karena telah selesai dari keinginan buang anginnya.

Ketika si suami tiba dan menyerahkan minuman, kemudian si suami membuka tutup mata si istrinya,si istri terkejut karena ternyata di rumah sudah banyak orang dan disampingnya ada mertuanya, sambil malu-malu si istri bertanya pada mertuanya,

“Oh Papa mama, sudah lama datang..?”

Sang mertua menjawab, “Iya, sudah sejak kentut pertama…”

Rabu, 25 Desember 2013

Demi Waktu

Masih ingatkah anda akan Surah Al Ashr ?

Surah ini menawarkan kepada kita, agar tetap dalam kesadaran bahwa tiap detik waktu yg kita jalani di bumi sangat berharga.
Mengajak kita untuk tidak menjadi sosok yang merugi dan mengingatkan kita bahwa waktu yang kita miliki sangat sedikit.
Jangan jadikan waktu seakan bergulir begitu sj tanpa ada manfaat.

Beruntunglah bagi merek
a yang tetap dalam imannya dan yg senantiasa beramal sholih.

Agar hidup lebih bermanfaat bagi orang lain, mari bersama saling ingat mengingatkan dalam hal kebaikan dan juga dalam hal kesabaran.



Salam,

HJK

Selasa, 12 November 2013

Semangkuk Bakso

Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.

"Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anakny...
a sendiri, sungguh keterlaluan," gerutunya dalam hati. "Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!"

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.

"Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam," sapa si tukang bakso.

"Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang," jawabnya tersipu malu.

"Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak."

Putri pun segera duduk di dalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, "Lho, kenapa menangis, neng?" tanya si abang.

"Saya jadi ingat ibu saya, bang. Sebenarnya... hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang."

"Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho."

Putri seketika tersadar, "Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?"

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,

"Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu."

"Ibu, maafkan Putri, Bu," Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.

Sabtu, 02 November 2013

Pesan Ibu

Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan.
Setelah memesan makanan, seoraEng anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!"
"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang.

"Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue.

"Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya." Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"

Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu."

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh."
Si anak pun segera menghitung dengan gembira.Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."



Salam,
HJK

Selasa, 22 Oktober 2013

Nilai Kehidupan

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini.... Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

Senin, 14 Oktober 2013

“Seven Social Sins”.

“Politics without principle. Wealth without work. Pleasure without conscience. Knowledge without character. Commerce without morality. Science without humanity. Worship without sacrifice”

-Mahatma Gandhi-