Rabu, 21 Desember 2011

Kita Tidak Lemah


Bung Karno :

Kita tidak lemah, sekali lagi kita tidak lemah.
Kalau kita lemah maka sebenarnya yang lemah ialah kita punya hati.
Jaga hatimu, jaga jiwamu, jaga rohmu.
Selama hatimu kuat, selama jiwamu kuat, selama rohmu kuat, Bangsa Indonesia tetap kuat

--------


Semoga Indonesia bangkit dari keterpurukan moral dan mental spiritual.


Salam,
HJK

Selasa, 20 Desember 2011

Bunda

Iseng-iseng buka laptop milik Kak Izam. Kutemukan puisi ciptaannya sendiri berjudul Bunda.

Hmmm...lucu juga...apa dia sendiri yang membuatnya, ya ?
Saat itu Kak Izam masih duduk di bangku SD Kelas VI B di Ar Ridho Jakarta Timur.

Ku coba mengcopy nya dan menyimpannya dalam blog ini, untuk kenanganku sendiri. Siapa tahu suatu saat nanti, Kak Izam akan membacanya lagi... hhhh....

Berikut puisi yang dibuatnya :

Bunda
Ciptaan : Rachmatu Bill Multazam -VI B

Detik demi detik, Menit demi menit
Jam demi jam, Hari demi hari
Bunda mengandung aku selama sembilan bulan
Dengan penuh kasih dan sayang

Pada akhirnya hari kelahiran ku pun tiba, saat itu bundaku berdoa
” Ya allah, selamatkan diriku dan bayi ku,
andai saja kau ambil nyawa ku hari ini ya allah,
aku ikhlas, asal kau lahirkan anak ku dengan selamat ”
Saat itu aku pun lahir atas doa ayah, bunda, kakek, dan nenek
Telinga kanan ku di kumandangkan adzan dan di telinga kiriku di qomatkan
Mengalir dalam tubuh dan darah ku ayat-ayat al-qur’an

Aku di beri nama yang baik, aku diajari bicara yang baik
” Nak ini bunda nak, nak ini ayah nak ”
Aku di ajari berjalan agar melangkah di jalan yang engkau ridhoi
” Nak ayo kemari tidak apa-apa ada bunda di sini ”
Bila aku terjatuh bunda yang minta maaf kepadaku
” Maafkan bunda nak, bunda tidak menjagamu hingga kau terjatuh nak ”

SUBHANNALLAH bunda ku

Tapi ya Allah Aku masih suka marah sama ayah dan bunda
Aku masih suka malas kalau di suruh sholat
Aku masih suka berbicara kasar pada ayah dan bunda
Aku masih suka tidak nurut perintah ayah dan bunda
Ampuni aku ya Allah

Jangan engkau ambil ayah bunda ku sebelum aku berbuat baik padanya
Lindungi ayah bundaku ya Allah
Ayah membanting tulang mencari nafkah
Bunda menyayangiku setiap hari
Semua menyayangiku

Ya Allah aku sayang dengan ayah dan bunda
Tapi aku masih sering khilaf ya Allah
Ingatkan aku selalu ya Allah
Tuntun aku selalu ya Allah
Bimbing aku agar senantiasa mendapatkan petunjukmu ya Allah

Agar aku menjadi anak yang berbakti
Agar aku bisa jadi anak yang membanggakan orang tua
Agar aku bisa jadi anak yang sholeh
Anak yang doanya langsung engkau kabulkan.....Amien

--------------


Alhamdilillah.....semoga Allah mengabulkan do'a Kak Izam, dan, menjadi anak yang qurrota a'yun



Salam,
HJK

Rabu, 07 Desember 2011

Proses VO yg berbelit

Sabar...sabar...dan sabar....

Banyak hambatan dan halangan dihadapan kita, kadang membuat adrenalin kita langsung memuncak. Sekecil apapun masalahnya, jika semuanya menjadi percuma, maka serasa sia-sia saja pengorbanan waktu yang sudah digunakan.

Menyelesaikan tugas sesuai tanggung-jawab dengan batasan waktu, itu sudah biasa. Bekerja dari pagi hingga pagi lagi, itupun sudah biassa. Semua yang terlibat, sebenarnya sudah sangat letih dan lelah, namun mereka mengabaikan rasa letihnya hingga semuanya selesai. Karena mereka semua tetap kommit akan batas waktu yang telah ditetapkan.

Semua bekerja tanpa mengenal lelah dan putus asa. Koreksi terus menerus, padahal waktu sudah terbatas. Pagi, siang, malam, hingga ke pagi lagi, hanya untuk menyiapkan tugas data yang diinginkan. Semua mempunyai peran masing-masing dalam penyiapan data yang dibutuhkan. Namun ketika jadwal yang diberikan sudah habis, data tersebut sudah selesai dan langsung diserahkan pada yang berkompeten, .....eeeh,... setelah diterima, .... ternyata tidak dibahas dan hanya tergeletak di atas meja tanpa disentuh sedikitpun.

hmmmm.... ternyata kesabaran sedang di uji, ....

Ya, sebenarnya ujian ini sangat kecil, namun sempat membuat hati mejadi kesal.
Dan sebenarnya, tidak ada yang sia-sia terhadap apa yang sudah dikerjakan.
Itu hanya prasangka kekecewaan saja.
Saya yakin, pada akhirnya akan berbuah kebaikan.

Semoga semua mempunyai hikmah yang terkandung di dalamnya.

----------------------------------

---- Ketika aku memohon kemudahan, Allah memberikan kesulitan agar aku mengerti proses birokrasi yang benar untuk selanjutnya menjadi mudah ----

---- Ketika aku memohon kesabaran, Allah memberikan ujian agar membuatku semakin sabar ----

Ini yang terkadang terlupakan olehku....



Salam,
HJK

Senin, 28 November 2011

Umar bin Abdul Aziz

Hari pertama, Saat diutusnya Umar sebagai Khalifah, beliau langsung membatalkan dan menolaknya, namun hal tersebut dicegah oleh seluruh umatnya.

Di hari kedua setelah dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata :

“ Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas al-Qur’an, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa disisi Allah ”.

Beliau kemudian duduk dan menangis " Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku " sambung Umar bin Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “ Apa yang Amirul Mukminin tangiskan ? ”

Beliau mejawab : “ Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jabatan ini, dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah, karena aku tahu yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw ’’.

Isterinya juga turut mengalir air mata.


------


Subhanallah…..Bagaimana dengan kita sendiri ? atau pemimpin yang ada/ kita kenal disekitar kita ? Apakah jabatan yg diberikan itu dianggap musibah atau justru nikmat ?

Justru yang kita ketahui di jaman ini, jabatan itu sudah menjadi ajang yang diperebutkan. Untuk mendapatkan jabatan secara benar itu sangat sulit, karena banyak persaingan. Sehingga perlu pelicin untuk meng "Gol" kan harapannya.

Membaca koran mass media apapun tentang Pilkada, banyak sekali terjadi kecurangan dan kericuhan dimana-mana. Sebenarnya bukan jabatan yang mereka inginkan, tapi uang yang bisa disalah-gunakan selama menjabat, itulah yang diincarnya. Makanya, segala cara apun ditempuh agar dapat meraih suatu jabatan.....Astaghfirullah haladzim....

Hmmmm, Kalo seandainya Umar bin Abdul Aziz masih ada, mungkin beliau jadi bingung dan heran...."Lho, musibah kok malah direbutin"..... walah dalah, kepriben toh... Pusiiiiiiing....



Salam,
HJK

Tidak mau bertanya kepada Tuhan

Arthur Ashe, Seorang Pemain Tenis Legenda dan pemenang Wimbledon sedang mengalami masa-masa kritikal karena jangkitan AIDS yang dia dapatkan dari pemindahan darah sewaktu melakukan pembedahan di hatinya.Dia mendapatkan simpati dari seluruh peminatnya di seluruh dunia, dan salah satu surat yang dia terima berbunyi : “Mengapa Tuhan memberikan kamu penyakit seburuk ini ?”.

Kemudian Arthur Ashe membalas suratnya :

“Di dunia ini — ada 50 juta kanak-kanak yang mulai belajar tenis, 5 juta yang belajar tenis secara rutin, 500.000 orang belajar secara profesional, 50.000 orang yang ikut pertandingan tenis, 5.000 di antaranya berhasil ke Grand Slam, 50 orang yang berhasil ke Wimbledon, 4 orang yang ke semi final, 2 orang yang berhasil ke babak Final, Ketika Saya merayakan kemenangan dan memegang Piala Wimbledon, SAYA TIDAK PERNAH BERTANYA KEPADA TUHAN, “MENGAPA SAYA” ?.

Dan hari ini walaupun sakit, SAYA TIDAK SEHARUSNYA BERTANYA KEPADA TUHAN, “MENGAPA SAYA” ?.


-------------

Hmmm....kisah di atas dapat kita jadikan contoh untuk selalu berprasangka baik kepada Allah Sang Maha Pencipta.

Berat memang menerima suatu kenyataan yang berbeda dengan keinginan kita.
Namun, disinilah kadar keimanan kita diuji.

Bertanya kepada Tuhan, berarti mengeluh atas ketetapan Allah. Padahal, kita tidak mengetahui hikmah apa yang terkandung dalam cobaan tersebut.

- Cobaan/ musibah merupakan dampak dari perbuatan kita secara langsung.
- Cobaan/ musibah adalah sebagai penghapus dosa.
- Cobaan/ musibah adalah sebagai peningkat derajat keimanan.

Allah menurunkan cobaan kepada diri kita, agar Dia bisa menguji kadar iman kita, apakah kita akan sabar ataukah akan marah-marah, dan adakah kita ridha terhadap takdir Allah.

Bersabar dan berserah diri kepada Allah adalah jalan yang terbaik. Karena dengan mengikhlaskan dan ridha atas segala yang diberikan, insya-Allah kenikmatan lain akan datang jauh lebih besar dibanding musibah yang diterima.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Baqarah : 153)

"Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa" (al-Baqarah : 177)



Salam,
HJK

Minggu, 27 November 2011

Semua tunduk untuk kepentingan manusia

Subhanallah, ternyata Allah telah membukakan dan memudahkan segala apa yang kita inginkan. Kita telah diberikan amanat oleh Allah SWT, untuk mengelola sekaligus menjaga seluruh isi bumi ini. Bahkan apa yang ada di langit dan bumi telah ditundukkan Allah, semata-mata untuk kepuasan lahir dan bathin kita.

"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan) mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan bathin ... " (Luqman/ 31:20).

Allah telah memberikan ruh, akal, fikiran, nafsu dan bentuk fisik yang paling sempurna dibandingkan ciptaan-ciptaan-Nya yang lainnya. Dan dengan seluruh sifat-Nya pada diri manusia, maka kita telah mampu menciptakan pesawat terbang untuk melintas terbang ke angkasa, menciptakan kapal untuk mengarungi lautan yang luas, dan juga menciptakan alat-alat berat untuk menggali rezeki yang ada dalam perut bumi, semuanya untuk kepentingan kita.

Semua ini tunduk bagi kepentingan manusia, tentunya atas izin-Nya semata.

Melaksanakan sesuatu pekerjaan, jika diawali dengan hati yang ikhlas, niat yang baik, pikiran yang baik, keimanan dan ketakwaan yang baik dan benar pula, insyaallah akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Jika Allah ridho dengan apa yang telah kita lakukan, maka Allah akan membukakan jalan yang benar untuk meraih keberhasilan/ kejayaan dunia dan akhirat.

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (al-A'raf/ 7:96)

Jangan bermimpi mengubah seluruh penduduk negeri beriman dan bertakwa dengan sekejap. Berikan contoh yang dimulai diri sendiri, yang insyaallah akan diikuti oleh kelompok yang lainnya, baru kemudian berkembang secara bertahap dan berkembang terus menjadi yang lebih besar.

Ceramah Aak Gym, beberapa tahun yang lalu masih teringat segar dalam pikiran saya.
Jika kita menginginkan suatu perubahan menuju suatu kebaikan, maka lakukan itu dengan 3 M ;

- Mulai dari diri sendiri,
- Mulai dari yang kecil-kecil, dan
- Mulai dari sekarang.



Salam,
HJK

Sabtu, 26 November 2011

Tahun Baru Hijriah

Oleh: Ibnu Muchtar

Sejarah Penetapan Tahun Hijriah

Tatkala Ya’la bin Umayah menjadi gubernur di Yaman pada zaman khalifah Abu Bakar, ia pernah melontarkan gagasan tentang perlunya kalender Islam yang akan dipakai sebagai patokan penanggalan. Pada waktu itu,catatan yang dipergunakan kaum muslim belum seragam. Ada yang memakai tahun gajah (‘amul fil), terhitung sejak raja Abrahah dari Yaman menyerang Kabah (yang secara kebetulan adalah tanggal kelahiran Nabi saw.); ada yang mendasarkan pada peristiwa-peristiwa yang menonjol dan berarti yang terjadi di zaman mereka. Misalnya, tahun pertama hijrah Nabi dinamakan tahun al-Izn, karena izin hijrah diberikan pada tahun itu. Tahun kedua disebut tahun Amr, karena pada tahun itu Allah swt. telah memberikan perintah kepada kaum muslim untuk bertempur untuk melawan kaum musyrik Mekah.

Akan tetapi, realisasi tentang penetapan penanggalan yang dipakai oleh umat Islam barulah terjadi di zaman Khalifah Umar. Menurut keterangan al-Biruni, khalifah menerima sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari yang menjadi gubernur di Bashrah (Irak), isinya menyatakan, “Kami telah banyak menerima surat dari Amirul Mu’minin, dan kami tidak tahu mana yang harus dilaksanakan. Kami sudah membaca satu perbuatan yang bertanggal sya’ban, namun kami tidak tahu sya’ban mana yang maksud. Sya’ban sekarang atau sya’ban mendatang di tahun depan?”

Surat Abu Musa rupanya dirasakan oleh Khalifah Umar sebagai sindiran halus tentang perlunya ditetapkan satu penanggalan (kalender) yang seragam, yang dipergunakan sebagai tanggal, baik dikalangan pemerintahan maupun untuk keperluan umum.

Untuk menetapkan momentum apa yang sebaiknya dipergunakan dalam menentukan permulaan tahun Islam itu, Khalifah mengadakan musyawarah dengan semua ulama dan para tokoh muslim. Dalam pertemuan itu ada empat usul yang dikemukakan, yaitu :

1. Dihitung dari kelahiran Nabi Muhammad saw.;
2. Dihitung dari wafat Rasulullah saw.;
3. Dihitung dari hari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira yang merupakan awal tugas risalah kenabian;
4. Dihitung mulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah (usul yang yang terakhir ini diajukan oleh Ali bin Abu Thalib).

Tetapi baik kelahiran Nabi, maupun permulaan risalah kenabian tidak diambil sebagai awal penanggalan Islam, karena tanggal-tanggal tersebut menimbulkan kontroversi mengenai waktu yang pasti dari kejadian-kejadian itu. Hari wafat Nabi juga tidak berhasil dijadikan tanggal permulaan kalender, karena dipertautkan dengan kenang-kenangan menyedihkan pada hari wafatnya. Besar kemungkinan nanti akan menimbulkan perasaan-perasaan sedih dan sendu dalam kalbu kaum muslim.

Akhirnya, disetujuilah agar penanggalan Islam ditetapkan berdasarkan hijrah Rasul dari Mekah ke Madinah.

Kapankah tepatnya beliau hijrah ke Madinah ? Beragam informasi dijumpai pada kitab-kitab tarikh tentang peristiwa itu. Imam at-Thabari dan Ibnu Ishaq menyatakan, “Sebelum sampai di Madinah (waktu itu bernama Yatsrib), Rasulullah saw. singgah di Quba pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 13 kenabian/24 September 622 M waktu Dhuha (sekitar jam 8.00 atau 9.00). Di tempat ini, beliau tinggal di keluarga Amr bin Auf selama empat hari (hingga hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal/27 September 622 M. dan membangun mesjid pertama (yang disebut mesjid Quba). Pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M, beliau berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ketika beliau berada di Bathni wadin (lembah di sekitar Madinah) milik keluarga Banu Salim bin ‘Auf, datang kewajiban Jumat (dengan turunnya ayat 9 surat al-Jum’ah). Maka Nabi salat Jumat bersama mereka dan khutbah di tempat itu. Inilah salat Jumat yang pertama di dalam sejarah Islam. Setelah melaksanakan salat Jumat, Nabi melanjutkan perjalanan menuju Madinah”. (Lihat,Tarikh at-Thabari, I:571; Sirah Ibnu Hisyam, juz III, hal. 22; Tafsir al-Qurthubi, juz XVIII, hal. 98).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Nabi tiba di Madinah pada hari Jumat 16 Rabi’ul Awwal/28 September 622 M. Sedangkan ahli tarikh lainnya berpendapat hari Senin 12 Rabi’ul Awwal/5 Oktober 621 M, namun ada pula yang menyatakan hari Jumat 12 Rabi’ul Awwal/24 Maret 622 M.

Terlepas dari perbedaan tanggal dan tahun, baik hijriah maupun masehi, namun para ahli tarikh semuanya bersepakat bahwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram (awal Muharram ketika itu jatuh pada tanggal 15 Juli 622 M).

Ketika para sahabat sepakat menjadikan hijrah Nabi sebagai permulaan kalender Islam, timbul persoalan lain di kalangan mereka tentang permulaan bulan pada kalender itu. Ada yang mngusulkan Rabi’ul Awwal (sebagai bulan hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah). Namun ada pula yang mengusulkan bulan Muharram. Namun akhirnya Umar memutuskan bahwa tahun 1 Islam/Hijriah di awali dengan 1 Muharram bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Dengan demikian, antara permulaan hijrah Nabi dan permulaan kalender Islam sesungguhnya terdapat jarak sekitar 82 hari.

Peristiwa penetapan kalender Islam oleh Umar ini terjadi pada hari Rabu, dua puluh hari sebelum berakhirnya Jumadil Akhir, tahun ke-17 sesudah hijrah atau pada tahun ke-4 dari kekhalifahan Umar bin Khatab. (Lihat, tulisan Dr. Thomas Djamaluddin tentang “Kalender Hijriah” dalam buku Almanak Alam Islami, hal. 183-184, dan Makalah tentang “Konsistensi Historis-Astronomis Kalender Hijriah”)


Asal Muasal Peringatan Tahun Hijriah

Peringatan tahun baru Islam tiap 1 Muharam baru dimulai sejak tahun 1970-an yang berasal dari ide pertemuan cendekiawan muslim di Amerika Serikat. Waktu itu terjadi fenomena maraknya dakwah, masjid-masjid dipenuhi jemaah, dan munculnya jilbab hingga kemudian dikatakan sebagai kebangkitan Islam, Islamic Revival. (Lihat, Pikiran Rakyat Online)

Dari kedua latar belakang sejarah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

1.penetapan bulan Muharram oleh Umar bin Khatab sebagai permulaan tahun hijriah tidak didasarkan atas pengagungan dan peringatan peristiwa hijrah Nabi. Buktinya beliau tidak menetapkan bulan Rabi’ul Awwal (bulan hijrahnya Rasul ke Madinah) sebagai permulaan bulan pada kalender Hijriah. Lebih jauh dari itu, beliau pun tidak pernah mengadakan peringatan tahun baru hijriah, baik tiap bulan Muharram maupun Rabi’ul Awwal, selama kekhalifahannya.

2.Peringatan tahun baru hijriah pada bulan Muharram dengan alasan memperingati hijrah Nabi ke Madinah merupakan kesalahkaprahan, karena Nabi hijrah pada bulan Rabi’ul Awwal, bukan bulan Muharram.

3.Menyelenggarakan berbagai bentuk acara dan upacara untuk menyambut tahun baru Hijriah tidak memiliki landasan hukum yang kuat.


-------------------------------------


Cat. : Semoga materi yg disampaikan oleh Ibnu Muchtar ini, menambah wawasan kita tentang sejarah Tahun Baru Hijriah.


Salam,
HJK

Penentuan Tahun 1 Kalender Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam.

Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.

Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah.

Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622.

Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.


Dikutip dari - Wikipedia


Salam,
HJK