Minggu, 21 Februari 2010

Luapan amarah

Kriiiing….segera kuangkat telepon tepat jam 14.50, dan kudengar : ” Pak, segera ke lapangan ada yang urgent !!! sekarang ya pak “, ucap seorang teman dari seberang telepon.

Segera ku pacu kendaraan double gardan warna merah, menuju TKP…Tempat Kejadian Permasalahan….


Sesampainya di lokasi….saya bertemu seseorang dan mengucapkan salam, tapi malah….Dimarahi !!! Dikritik !!! .... yaaa, itu sudah biasa…meskipun dalam hati berkata “@#!?>X#X CVB$%&@ “ (nggak tau mau ngomong apa)….h h h….

Balik marah ?!!?...enggak la yaw….

Hmmm…kalau dipikir-pikir, mungkin marah/ dimarahi itu bagian dari menjalankan amanah ya…h h h…tapi, menurut saya sih,…sebaik-baik amarah adalah dengan tutur kata yang lemah lembut… Jangan menuruti emosi hanya karena luapan rasa marah atau benci pribadi.

Pada dasarnya, setiap manusia itu ingin menjadi seorang yang baik/ sempurna. Dan hati manusia sebenarnya, juga ingin selalu menuju hal yang baik-baik saja. Buktinya, coba saja tanyakan pada seseorang yang anda kenal, mau jadi orang yang baik atau jahat, mau jadi orang yang sabar atau pemarah, mau jadi orang yang ikhlas atau kecewa ? pasti jawabannya mengarah pada yang baik.

Dalam bahasa agama disebut dengan “ Hanif “, yaitu kecenderungan hati untuk selalu berbuat baik.

Berbicara masalah emosi,…hmmm….teringat saya sebuah kisah tentang Sayidina Ali bin Abu Thalib, saat terlibat perkelahian dalam perang Shiffin.

Posisi beliau sudah sangat tertekan, pakaian perang yang dikenakan pun sudah robek semua. Badan berlumuran darah akibat sabetan pedang sang musuh yang ternyata sangat tangguh dan kuat, sehingga beliau belum dapat merobohkannya.

Bahkan dalam satu kesempatan, pedang musuh nyaris menebang leher beliau. Namun dengan kesigapan dan ketangkasannya, Sayidina Ali mampu mengelak dan menyerang balik musuh hingga jatuh terjerembab. Lalu dengan seketika, Sayidina Ali melompat dan menindih tubuh musuhnya, melucuti pedangnya membuang jauh.

Saat senjata tajam beliau sudah siap menghunjam ke jantung musuh, tiba-tiba musuhnya meludahi wajah beliau. Beliau Sayidina Ali sangat marah bukan kepalang.

Tapi,…justru aneh,…pedang yang semula akan dihunjam kan ke jantung musuh, malah dibuang dari tangan beliau. Musuh bukannya langsung dibunuh, malah dilepaskan dari kematian.

“ Mengapa tuan melepas saya ?, mengapa tuan urungkan membunuh saya ? “ , tanya orang tersebut keheranan.

Dengan menahan rasa amarah yang sangat dalam, Sayidina Ali pun berkata : “ Aku tidak mau membunuhmu dengan kemarahan menguasai diriku, akibat kau ludahi mukaku. Dan aku tidak mau mengotori perjuanganku dengan luapan rasa marah dan benci pribadi. “.

H h h….ada yang bisa mencontoh beliau ?...ya, inilah contoh orang yang merdeka. Jiwanya benar-benar tidak mau tunduk pada hawa nafsunya. Karena, dia hanya mau tunduk pada perintah Allah dan Rasul-Nya saja.



Salam,
HJK

  • Jadilah orang yang merdeka, yaitu orang yang hatinya tidak terbelenggu oleh apapun. Sehingga mampu untuk mempertahankan sifat hanif nya.
  • Jika ada yang marah lagi, aku akan berkata (dalam hati) : “ Aku akan menyelesaikannya dengan bahasa yang baik, meskipun kau marahi aku. Dan aku tidak mau mengotori amanah penyelesaian proyek ini dengan luapan rasa marah dan benci pribadi yang menguasai diriku. “....tapi, apa bisa ya ????

Sabtu, 20 Februari 2010

Kisah danau dan garam

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika belakangan ini wajahnya tampak sangat murung.." Kenapa kau selalu murung, nak ? Bukankah banyak hal indah di dunia ini ? Kemana hilangnya wajah bersyukurmu ? ", Tanya guru itu...

" Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah, sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habisnya "... jawab murid tersebut dengan lesu.

Sang guru tertawa terkekeh mendengar keluh muridnya tersebut. " Nak, ambilah segelas air, dan dua genggam garam..akan kuperbaiki suasana hatimu itu ". Si murid pun beranjak pelan tak semangat melaksanakan perintah guru itu, tak lama kemudian ia kembali sambil membawa segelas air dan 2 genggam garam.

" Coba kau ambil segenggam garam dan masukkan kedalam gelas itu, kemudian kau minum airnya sedikit "...perintah guru tersebut.

Si murid pun melaksanakannya, dan wajahnya kini meringis karena meminum air asin itu...

" Bagaimana rasanya ? ".. Tanya sang guru. " Asin dan perutku mual rasanya "...jawab sang murid sambil meringis. Sang guru pun terkekeh melihat wajah muridnya tersebut.

" Sekarang kau ikut aku ". Sang guru membawa muridnya ke pinggir danau dan menyuruh muridnya menebarkan garam yang tersisa ke danau tersebut.

Si murid langsung menebarkan garam yang tersisa sambil menahan rasa asin dimulutnya yang belum hilang. Rasanya ingin meludah , tapi sungguh tidak sopan jika dilakukan di depan guru, pikirnya... " Sekarang kau coba minum air danau itu "...pinta guru itu sambil mencari batu yang datar untuk di duduki nya di samping danau itu.

Sang murid menangkupkan kedua tangannya untuk mengambil air danau itu, dan langsung meminumnya.

Begitu air danau yang segar itu mengalir di tenggorokan, sang guru bertanya kepada murid nya.. " Bagaimana rasa air danau itu ? ". " Segar, segar sekali guru ! " jawab murid tersebut. Tentu saja, karena air danau itu berasal dari mata air diatas gunung dan mengalir ke danau ini dan sudah pasti air danau ini menghilangkan rasa asin dimulut si murid.

" Terasakah garam yang kau tebar tadi ", Tanya guru itu kepada muridnya . " Tidak sama sekali ", jawab sang murid sambil terus meminum air danau tersebut. Sang guru hanya tersenyum melihat muridnya itu dan membiarkan muridnya minum air danau sampai puas.

Setelah murid itu selesai meminum air danau, sang guru berkata " Nak, Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam, tidak kurang , tidak lebih, hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kau alami di dalam hidup mu itu sudah dikadar oleh Tuhan , tidak berkurang dan tidak bertambah, sesuai untuk mu, seperti segenggam garam itu. Setiap manusia yang lahir di dunia ini , bahkan nabi sekalipun, tidak lepas dari masalah "..

Si murid terdiam mendengarkan. .. " Tapi nak, rasa ' ASIN ' yang dialami dari penderitaan itu sangat bergantung dari HATI yang menampungnya. "

Jadi, supaya tidak merasa menderita , BERHENTILAH JADI GELAS, jadikan hati di dalam dada mu menjadi sebesar DANAU.

" Hidup memang butuh keberanian, tapi terlebih lagi ketelitian. Cermatilah langkahmu dan waspadai tindakanmu. Hati- hati saat mencelupkan jari di dalam toples kehidupan, kalau tidak, rasa " PAHIT " yang akan kita dapatkan. "


Salam,

HJK

  • LUASKAN/ LAPANGKAN HATIMU.
  • Ya, seringkali kita merasa tertekan/ stres menghadapi suatu persoalan yang tidak kunjung usai. Semua perasaan itu sebenarnya adalah belenggu yang masih melekat pada pola pikir kita, sehingga mempengaruhi hati dan jiwa.
  • " Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. "
  • " Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf. "

Jumat, 19 Februari 2010

Hujan....hmmm...


Hujan lagi di lokasi proyek ini.

Sejak jam 10 pagi, mendung begitu tebal menyelimuti seluruh pandangan langit.
Dan jam 11.45, tak terelakkan lg, hujan pun turun membasahi bumi.
Malam ini pun, hujan rintik-rintik masih enggan tuk berhenti.

hmmm....adakah maksud Allah untuk ini semua ?!?!

Masya-Allah, ampuni keluhan dalam hatiku...

Ya Allah, Sesungguhnya aku tahu, bahwa hujan ini adalah rahmat dan anugerah dari Mu.

Hamba bermohon pada Mu ya Allah, jika memang saat ini adalah yang terbaik untuk hamba menyelesaikan tugas/ amanah dari MU, sampaikanlah hujan ini pada yang lebih membutuhkannya, sehingga membawa manfaat untuk mereka.

Sesungguhnya hanya pertolongan dari Mu yang hamba harapkan.
Karena kami dan alam semesta ini tunduk dan menyembah serta memohon ridho hanya pada Mu.

Amin


Salam,
HJK

Sabtu, 06 Februari 2010

Bekal dari setiap masalah

Alhamdulillah, Akhirnya…..ada waktu juga untuk curhat kembali, setelah lebih dari 1 bulan lamanya tak bercerita.

Sulit sekali memanfaatkan waktu luang hanya untuk sekedar menulis yang terjadi. Waktu begitu sempit dan cepat berlalu. Hampir saja saya terjebak dalam satu masalah pekerjaan di lapangan, padahal masih banyak masalah lain yang harus diselesaikan di lokasi yang berbeda.

(Kondisi Pier 2, Pier 7 dan Pier 8 sebelumnya)

Setiap proyek pasti selalu saja ada masalah, yang berdampak pada kritisnya sisa waktu pekerjaan. Tidak ada pekerjaan sulit yang tidak bisa dikerjakan, namun kendalanya adalah pada sisi waktu yang terbuang tanpa ada prestasi.

Pengerjaan penggalian pile cap jembatan Susukan, khususnya Pier 2, Pier 7 dan Pier 8, begitu sangat menyita perhatian dan waktu, karena lokasi tersebut merupakan garis lintasan kritis dalam schedule pekerjaan Tol Semarang-Bawen.
(foto : pemasangan sand bag saat akan memulai pasangan batu)

Kesabaran terkadang tak terkontrol lagi, bilamana melihat tenaga kerja yang sudah mulai loyo dan kedinginan.

Perasaan kemanusiaan seringkali lepas dari hati, karena memaksa mereka tetap bekerja meskipun dalam kelelahan.

Keikhlasan/ kepasrahan tak lagi ada di qolbu, manakala melihat cuaca tiba-tiba berubah menjadi gelap….lalu hujan…

Ikhtiar sudah dilakukan, namun masalah di lokasi tersebut tidak kunjung usai.

Ya, itulah kelemahan saya sebagai manusia biasa, yang seringkali lalai dan mudah mengeluh.

Namun, dengan pemikiran dan kerja-sama tim, tercapailah kesepakatan bersama. Penggalian pile cap dilakukan secara bertahap, pemancangan sheet pile, batu boulder sebagai counter weight, pemasangan sand bag, pasangan batu sebagai pengganti bekisting pile cap, dan pengecoran setengah pile cap.

Beberapa pekerjaan tidak dapat dilakukan 1 kali jadi, tapi berulang. Karena lokasi pile cap terdapat sumber air dan berada pada patahan tanah clay shale, maka pekerjaan ulang sering kali terjadi. Semisal, pasangan batu ambruk, sand bag jebol, sheet pile tergeser sudah menjadi pekerjaan yang banyak menyita waktu. Terlebih lagi, kedalaman masing galian pier sangat dalam. Untuk kedalaman pier 2 = 15 m, Pier 7 = 14 m dan Pier 8 = 12.5 meter dibawah permukaan tanah existing. Layaknya membuat galian untuk 4 - 5 lantai basement pada lokasi yang sangat sempit. Ditambah lagi lokasi tersebut berada pada bidang longsoran clay shale.

Dan, alhamdulillah….dari 3 pier bermasalah, Pier 8 mendekati selesainya permasalahan. Pengecoran tahap pertama ½ pile cap telah dicor pada hari selasa tanggal 2 Februari 2010 dan ½ sisanya direncanakan pada hari minggu tanggal 7 Februari 2010. Sementara Pier 2 dan Pier 7 masih dalam proses penggalian, yang insyaAllah tidak membuat saya mengeluh lagi. Dan pada akhirnya, setiap kejadian merupakan pelajaran yang baik untuk saya. (pengecoran dimulai cor jam 14.00 selesai jam 00.20)

Maha Besar Engkau ya Allah, yang memiliki Keluasan Ilmu. Baruku sadari, begitulah cara Engkau memberikan ilmu padaku. Ya, begitulah cara Allah dalam meningkatkan derajat kaumnya yang mau berpikir. Diberi-Nya masalah, yang sebenarnya adalah pembelajaran untuk kita jika menghadapi persoalan yang sama. Sehingga, kedewasaan dalam menghadapi setiap persoalan akan semakin meningkat pada diri setiap insan.

Memang tanpa saya sadari sebelumnya, dan yang ada hanya gundah di hati, namun pada akhirnya saya mendapatkan tambahan bekal pengetahuan dari pekerjaan tersebut.

Syukur Alhamdulillah ya Allah, ternyata begitu sayangnya Engkau padaku.
Hanya saja diri ini sering khilaf dan tak sabar dalam penantian.
Lunakkanlah hati ini, dan lembutkanlah tutur kata ini.
Lapangkanlah dada ini dari himpitan perasaan diri.

Ya Allah, Jauhkanlah diri ini dari berprasangka buruk pada Mu.
Terangi selalu hati ini dengan petunjuk-Mu, sehingga mampu terhindar dari perbuatan musrik.
Dan Jauhkanlah diri ini dari perasaan riak, atas segala keberhasilan.

Ya Allah, Bimbing dan ridhoilah setiap langkah yang hamba tempuh…Amin


Salam,
HJK

Senin, 21 Desember 2009

ESQ Parenting # 3

(kak Izam n dek Nadya, usai mengikuti ESQ)

Nambah lagi ya, ini catatan ESQ Parenting bagian akhir.

Yang saya tahu dari pelatihan tersebut, ada istilah neuron di dalam otak kita. Neuron itu terbentuk secara bertahap dari saat kita masih kecil. Neuron dalam otak sangat berperan dalam pembentukan diri setiap anak.

Untuk membangun neuron diawal tahun kehidupan anak, peran orang tua sangat penting dalam menyusui dan memberikan rasa aman pada anak. Juga memberikan kesempatan pada anak untuk bereksplorasi dengan panca inderanya. Jika eksplorasi anak dihambat, maka neuron tersebut akan tersendat/ terhenti dan tidak terbangun sambungannya. Jadi, kita sebagai orang tua, dituntut untuk selalu mendampingi serta mengarahkan eksplorasi sang anak. Agar tujuan yang diharapkan terhadap sang anak nantinya dapat sesuai yang diharapkan.

Jika eksplorasi sang anak terarah secara baik, maka neuron akan berkembang dan membentuk jaringan baru secara bertahap, sejalan dengan pengalamannya yang memperbanyak sambungan neutron otaknya.

Ummu Al Fadhl bercerita :
" Suatu ketika aku menimang bayi. Kemudian Rasulullah mengambil bayi itu lalu menggendongnya. Saat digendong, bayi itu pipis dan membasahi pakaian Rasulullah. Segera saja kurenggut bayi itu secara keras (kasar) dari gendongan Rasulullah. Beliaupun menegurku : “ Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi kekeruhan jiwa dalam jiwa sang anak akibat renggutanmu yang kasar itu tidak dapat dibersihkan “. (HR. Bukhari).

Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua :

  1. Anak diberi kepercayaan untuk berani mencoba dan mampu mandiri.
  2. Anak didorong untuk berinisiatif dan diberi kepercayaan untuk puny ide.
  3. Anak diberi kepercayaan untuk bertanggung jawab dan bekerja.

Akibat orang tua tidak mengerti bahwa cara berpikir anak berbeda dengan orang tuanya :

  1. Jika orang tua mengabaikan, anak merasa tidak aman dan tidak percaya.
  2. Jika orang tua menyalahkan, anak merasa ragu dengan dirinya.
  3. Jika orang tua menghina, anak merasa bersalah.
  4. Jika orang tua menyepelekan, anak merasa rendah diri.

Dalam sebuah riwayat,
Seorang perempuan miskin datang menemuiku, kata Aisyah r.a. Dia membawa ke 2 anak perempuannya. Aku memberinya 3 butir kurma. Lalu dia memberi 2 butir kepada anaknya. Ketika dia akan memakan kurmanya, ke 2 anak tersebut bermaksud merebutnya sehingga kurma itu pun terjatuh dari tanganya. Akhirnya, perempuan itu tidak jadi makan kurma satu butirpun. Aku terpesona melihat perilaku perempuan itu ".
Aku ceritakan peristiwa itu pada Rasulullah, dan bersabda : “ Barang siapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia tetap berbuat baik padanya, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka “.

Orang tua bisa membantu anak agar dapat berbakti dengan :

  1. Menerima usaha anak walaupun sedikit.
  2. Memaafkan kekeliruan anak.
  3. Tidak membebani anak dengan beban yang berat.
  4. Tidak memaki anak dengan makian yang melukai hati.

Anak dididik untuk menghadapi ujian hidup :

  1. Anak akan melewati tahap-tahap perkembangannya sebagai ujian yang akan membuatnya meningkatkan kemampuan dirinya.
  2. Anak dan orang tua perlu mengetahui kesulitan atau ketidaknyamanan yang dihadapi anak adalah sarana meningkatkan kemampuan dan derajat diri mereka.


Salam,
HJK

Minggu, 20 Desember 2009

ESQ Parenting # 2

(usai mengikuti ESQ, bersama de' Nadya)

Eh sahabat, tahu nggak ?....enggak dong, kan belum di tanya atau diberitahu…h h h…

Pendidikan anak sejak dini yang terbaik adalah semasa anak di dalam kandungan.
Lho..kok dalam kandungan ? ya…sesungguhnya, pendengaran janin itu sudah mulai timbul sejak usianya 16 minggu.

Menurut Dr. Hanny R “ Struktur telinga janin sempurna pada usia 24 minggu, akan tetapi pendengaran sudah mulai timbul pada usia 16 minggu “.

Nah lho…gimana saat istri kita hamil dulu ya ? pernahkah kita marah dan membuatnya sedih ? Seringkah kita ajak janin kita berbicara ?

Jadi, saat hamil, ketika ibu sholat, janin belajar bahwa tempatnya berdiam selalu bergerak di waktu-waktu tertentu, seperti saat rukuk maupun sujud. Janinpun mendengarkan gemericik air wudhu yang mengalir dalam waktu yang teratur, sehingga dia merasa tenang dan belajar tentang ritme yang terjadi pada waktu-waktu tertentu tersebut.

Tindakan mengusap2 perut istri, itupun dapat membuat janin merasa senang dan tenang. Jika istri merasa nyaman dan aman, sang janin pun merasakannya. Perasaan tidak senang/ jengkel yang dipendam oleh istri terhadap suaminya pun dapat dirasakan oleh sang janin.

Jadi, segala yang dirasakan oleh panca indera sang ibu, dirasakan juga oleh sang janin. Tidak sedikit, biasanya ibu mencari kesibukan, entah memasak, olah raga/ senam, rekreasi, dan juga meng” khatam ” kan qur’an, untuk mencari ketenangan bathin bagi diri dan janinnya.

Menurut, HR. Bukhori :
Sesungguhnya bahan-bahan untuk membentuk kalian (sel sperma dan satu telur) disatukan dalam perut-perut ibu kalian dalam waktu 40 hari, kemudian Allah menjadikannya segumpal darah dalam waktu 40 hari, setelah itu segumpal darah tadi dibentuk menjadi segumpal daging dan memakan waktu selama 40 hari juga. Selanjutnya Allah mengutus Malaikat yang akan menentukan 4 hal, yakni : mengenal rezekinya, kematiannya, bagaimana kehidupannya kelak, dan apakah dia termasuk golongan orang-orang yang bahagia ataukah termasuk orang yang sulit, satelah itu ditiupkanlah kepada janin tersebut ruh “.

(bersama mengembangkan potensi ESQ)

Nasihat Luqman pada anaknya : (Lukman : 12 – 19)

  1. Bersyukur/ berterima kasih kepada Tuhan dan orang tua.
  2. Mengakui Allah dan tidak menyembah yang lain.
  3. Berbuat baik kepada orang tua, walaupun mereka tidak beriman.
  4. Selalu berbuat baik karena yakin Allah akan membalasnya.
  5. Mendirikan sholat dan sabar.
  6. Mengajak kepada perbuatan kebaikan dan mencegah keburukan.
  7. Tidak sombong.
  8. Menjadi orang yang santun.



Salam,
HJK

Sabtu, 19 Desember 2009

ESQ Parenting # 1

(Mata sembab habis menangis seharian)

Subhanallah…banyak hal yang harus kita ketahui tentang pendidikan anak sejak dini. Pelatihan ESQ Parenting oleh Ary Ginanjar, kira-kira dapat saya simpulkan sebagai berikut…tapi, saran saya sebaiknya ikut pelatihan langsung aja deh….

Mungkin tanpa kita sadari, bahwa selama ini sikap dan perilaku kita di dalam keluarga justru dapat menjadi penghambat potensi/ kreatifitas/ kemampuan/ pola pikir anak.

Sebenarnya, anak yang tidak mengerti pola pikir kita, ataukah kita yang tidak bisa memahami pola pikir anak kita ? Seberapa besar kita sudah memperkenalkan mereka pada Tuhannya melalui hal-hal sederhana yang ada disekitarnya ? Ada waktukah kita untuk mereka ? Seringkah kita memberikan contoh tauladan yang baik untuk mereka ? dan masih banyak pertanyaan lainnya untuk kita sebagai orang tua…dan juga mereka yang akan menikah.

Pelatihan ESQ Parenting, bukan saja diperuntukan orang tua ataupun calon orang tua, tetapi bagi siapa saja yang ingin mengenali dan mengeluarkan potensi fitrah manusia yang luar biasa. Materi pelatihan tersebut memandu peserta mengarungi sebuah pengalaman emosi dan spiritual yang akan menggugah pemahaman orang dewasa terhadap anak….h h h, sedikit promosi, karena menurut saya ini sangat penting jika kita menghendaki nantinya terwujud generasi yang Cerdas Spiritualnya, Emosionalnya dan Intelektualnya.

Setelah mengikuti pelatihan, kita pasti akan merasa bersalah terhadap pendidikan anak sebelumnya…kalo anak sudah terlanjur besar, yaaa…kita istighfar aja deh, semoga ketidaktahuan kita, tidak berefek terhadap eksplorasi / pola pikir anak di masa depannya…kan kita tidak tahu, mudah2an di ma’afkan…h h h.

Dan sebenarnya, keberadaan mereka adalah guru yang baik untuk kita. Guru dalam hal kesabaran, ketekunan dan kesungguhan dalam mencari rezeki yang halal, juga dalam hal lainnya.

Intisarinya, kita harus mampu mendidik anak2 kita, agar :

  1. Mampu mengenal dan mengabdi kepada Tuhan-nya.
    Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku “ (Adz Dzaariyaat : 56). "
  2. Mampu memenuhi perjanjian Ruh.
    Bukankan Aku ini Tuhanmu ? benar, kami bersaksi “ (Al A’raaf : 172).
  3. Mampu menjadi Khalifah.
    Aku hendak menjadikan khalifah di bumi….” (Al Baqarah : 30).
  4. Mampu menghadapi ujian kehidupan.
    Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) “.
  5. Mampu mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya kepada Tuhan-nya.
    Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban) “.

Salam,
HJK

Selasa, 08 Desember 2009

Menjadi fitnah dan musuh

(berkumpul dengan para pensiunan)

Berkumpul dengan komunitas/ teman yang sudah pensiunan/ tua, membuat saya merasa paling muda. Banyak hikmah yang dapat saya petik dari mereka. Cerita tentang pengalaman hidupnya, istri, anak serta sahabatnya yang lain, membuat saya bertafakur/ merenungi sisa perjalanan hidup ini.

Jika berkumpul, biasanya saya banyak bertanya tentang perjalanan hidupnya. Setelah bertanya, saya lebih banyak mendengarkannya. Karena saya ingin menjadi pendengar yang baik untuk mereka.

Umumnya, mereka lebih banyak membicarakan masalah anak2 nya yang sudah besar, bekerja, menikah, mempunyai cucu dan lain-lain. Ada yang menyenangkan (patut untuk ditiru) dan ada juga yang menyedihkan (menjadi pelajaran), sehingga mampu menjadi bekal untuk mendidik anak2.

Intinya adalah “ Agama “….ya, “ tanamkan agama sejak dini “ pada anak2 kita. Agama merupakan pondasi utama atau pedoman dalam menjalani kehidupan. Karena di dalam agama sudah termasuk didalamnya pelajaran mengenai kejujuran, berpikiran positif dalam meraih masa depan, disiplin, tanggung-jawab, kerja-sama, adil, budi pekerti/ sopan-santun, dan lain sebagainya.

Mengajarkan pentingnya agama pada anak2 harus dibiasakan sejak dini dalam keluarga, supaya nanti menjadi kebiasaan yang berbuah budaya dalam kehidupannya kelak. Tentunya “ mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari saat ini “….ha ha ha…meniru slogannya A’ak Gym.

Ketika anak2 masih kecil (mungkin sampai dengan kelas 3 SMP), kita masih mampu untuk mengontrol dan mengawasi mereka. Namun begitu mereka menginjak dewasa (SMA sampai dengan berkeluarga/ bekerja), kita sudah tidak mampu lagi untuk mengawasinya. Namun jika pondasi agama sudah tertanam dalam qolbu, insyaAllah mereka akan senantiasa merasa terus diawasi. Bukan oleh kami sebagai orang tua, tetapi karena perasaan “ Ihsan “ – Merasa selalu melihat Allah atau merasa selalu diperhatikan Allah.

Telah difirmankan di dalam al qur’an, bahwa nikmat keberadaan harta, istri dan anak akan menjadi fitnah/ musuh jika tidak mampu mengendalikannya, kecuali yang tetap berpegang teguh pada iman serta melakukan amalan-amalan yang kekal dan shaleh. Jika tidak, justru akan menjerumuskan seorang hamba dalam kerugian/ kebinasaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya,Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan ”. (Qs.al-Kahfi: 46)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka “ (Qs. At-Taghaabun:14)

Arti kata “ musuh ” di sini adalah hal-hal yang dapat melalaikan kita dari ibadah/ perbuatan amal shaleh. Sehingga dapat menjerumuskan kita ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah SWT.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menafsirkannya, “..…karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini), Allah Swt memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya ”.

Ya….Alhamdulillah, semua saya dapatkan seakan mengalir begitu saja tanpa disengaja, tetapi saya yakin ini adalah anugerah/ hidayah dari Allah yang disampaikan melalui orang2-tua tadi. Tinggal kita mau menjadikan pelajaran atau mengabaikannya. Karena sesungguhnya anugerah/ hidayah itu dihamparkan begitu luas oleh Allah di muka bumi ini, bagi siapa saja yang ingin meraihnya.

ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA

“ Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa. “ (QS. Al Furqon:74)

(dimanapun berada, selalu ada hikmah yang dapat diraih)



Salam,
HJK